Kamis, 03 November 2011

INDONESIA DIBELIT MAFIA


BAGAIKAN Benang kusut, kini Republik ini dihadapkan pada kehidupan yang tidak terarah. Dunia terutama alam bumi pertiwi menjerit, pendidikan di Indonesia sejak jaman rejim orde baru berkuasa sampai jaman era reformasi hingga detik ini masih tetap saja ada dan tidak pernah dapat diselesaikan. Padahal, pendidikan adalah mata rantai anak-anak bangsa dalam merajut masa depannya  menyongsong hari esok gemilang.

          Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 dan 32 dengan jelas mengatakan bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak. Namun pada kenyataannya,  ……..tahun bangsa ini merdeka, yang didapatkan hanyalah mencetak generasi bodoh dan kerdil.
          Memang bangsa Indonesia pernah mengalami kejayaan pada masa tahun 1970-1980-an dimana negara jiran Malaysia mengirim ratusan guru terbaiknya untuk belajar di Indonesia. Semangat berjibaku para guru dari Malaysia itu, seharusnya disambut dukungan hangat oleh pemerintah. Sebab itu artinya, bangsa Indonesia mendapat kepercayaan besar dan diakui keberadaannya di negara-negara Asia bahwa mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia saat itu, boleh dibilang tak kalah hebat dengan negara besar lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, entah kenapa dunia pendidikan Indonesia mengalami kemunduran luar biasa. Bila dulu di masa tahun 1970- dan 1980-an bangsa ini  mengalami jaman keemasan dalam dunia pendidikan, kini posisi kita sudah terbalik. Malaysia yang dulu belajar di Indonesia, sepuluh dan dua puluh tahun kemudian guru-guru kita malah kini menjadi terbalik berguru dan belajar ke negeri jiran tersebut.
          Keadaan ini tentu membuat kita sangat prihatin dan ngenes. Betapa tidak, justru di saat dunia memasuki abad  serba alat canggih, di mana setiap bangsa di seluruh belahan dunia memperisiapkan diri menghadapi dunia teknologi dan informasi. Saling bersaing mencetak generasi bangsa yang berkualitas dan unggul, dengan mutu pendidikan terjamin, tetapi bangsa Indonesia malah semakin terpuruk dan diambang kehancuran.

Dunia pendidikan di Indonesia sudah carut marut dan penuh tambal sulam. Memang di sana-sini banyak sekolah bermunculan. Perang antar sekolah mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi bagaikan cadawan yang tumbuh subur anggaran Rehap Sekolah dan sarana lainnya. Semua menjanjikan yang paling terbaik mulai sarana dan fasilitas, gelanggang mutu pelajaran sampai lapangan pekerjaan sudah disiapkan. Biaya sekolah  tidak usah ditanya. Sekali pun harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah, namun  tidak menjadi kendala bagi orang tua yang ‘berkocek’ tebal untuk menyekolahkan anaknya di tempat paling bergengsi. Tak heran, sekolah pun dijadikan komoditi industri untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya namun disisi lain ‘ruh’ pendidikan telah hilang.
          Bagi sekolah swasta mungkin tidak menjadi persoalan. Namun berbeda dengan sekolah negeri yang menjadi tanggungjawab pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional yang kini di pimpin Menteri Mohammad Nuh, sepertinya Indonesia tengah dibelit mafia kerakusan menumpuh harta. Sebab, tidak ada alasan karena ini dan itu, sebab, di tangan departemen ini lah bodoh dan pintarnya generasi bangsa kita, ditentukan oleh mereka. Namun pada kenyataannya, Depdiknas yang bertanggungjawab  mencetak intelektual generasi muda,  disinyalir berbagai pihak  sudah dibelit ‘mafia’ hingga merambah kepada kesempatan menyalagunakan jabatan menggerogoti APBN/APBD untuk memperkaya diri.

Akibat ulah oknum pejabat di jajaran pendidikan kurang bermutu  dan kurang bertanggungjawab masa depan generasi penerus bangsa Indonesia, tak heran bila bangsa ini menjadi bangsa yang tolol, kerdil  dan banyak yang goblok bertengger di legislative dan Departemen maupun Pemerintah Daera, tidak lagi merasakan derita rakyat. Yang mana efek dominonya pada dua puluh tahun ke depan bangsa Indonesia diambang Lost Generations (generasi yang hilang), wajar jadi dosa moral penyelenggara negara.
          Bagaimana ini  ?    

Tidak ada komentar:

Pengikut